Pasar Gelap di Kebun Binatang Ragunan

Praktik jual beli hewan langka di Taman Margasatwa Ragunan (TMR) membuat Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi bingung bahkan ia mengaku tidak memahaminya. Jawaban klise yang dikeluarkan bahwa dirinya belum mengetahui dan akan mengecek kebenaran bahwa TMR menjual hewannya ke Pasar Hewan Pramuka, Jakarta Timur.

Menurutnya apabila praktik jual beli hewan langka itu terjadi, hal itu sudah temasuk kategori pencurian. Namun, jika hewan di Ragunan dijual karena kelebihan populasi, tidak menjadi masalah. Aku tidak memahami apakah itu sah atau tidak. Kita mesti tahu dulu, ujarnya, Senin (4/11).

Beruang madu (FOTO: Tempo)
Beruang madu (FOTO: Tempo)

Sebelumnya, Kepala Humas TMR, Wahyudi Bambang membantahnya kalau instansinya memiliki hubungan spesial dengan Pasar Hewan Pramuka. Ia bahkan mengancam akan memukul orang dari Pasar Pramuka yang mengatakannya. Menurutnya, informasi itu tidak benar karena anakan hewan langka di TMR berfungsi untuk dikonservasikan. Tidak benar itu, jangan sensasional lah, tukasnya.

Walaupun dalam Lampiran PP No 7 Tahun 1999, dan ada ketentuan dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1990, memperdagangkan satwa langka mati juga dilarang, namun jual beli hewan langka di kebun binatang Ragunan santer terdengar.

Hal ini diakui seorang pedagang hewan langka di Pasar Hewan Pramuka, kalau TMR sebagai pemasok hewan langka seperti harimau dan beruang madu, untuk dijual kepada kolektor asal luar negeri. Tak hanya itu seekor beruang madu diduga yang dipotong di Ragunan dijual untuk dikonsumsi.

Menurut pengakuan HMN (50) pedagang hewan langka di Pasar Pramuka pernah menjual macan Bengal India dengan harga Rp190 juta kepada seorang petinggi TNI. Selain itu, HMN juga pernah di era 2000-an bertransaksi dengan seorang mantan petinggi Polri yang mencari seekor rusa tutul asal Timor. Hewan ini termasuk langka jenis Appendix 1 yang tidak boleh diperjualbelikan, apalagi keluar dari kawasan konservasi.

Tetapi, karena pemesannya mantan petinggi Polri, HMN mudah membawanya ke luar kawasan konservasi. Ia cukup menelepon Kapolseknya sehingga bisa membawa rusa Timor dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Bali. Padahal waktu itu orang itu tidak menjabat lagi, katanya.

Untuk mendatangkan hewan langka, jelasnya, ia tidak pernah meminta panjar terlebih dahulu kepada pembelinya. Sistemnya, dia akan mencarikan dahulu hewan langkanya, lalu setelah mendapatkannya baru dia meminta separuh uang dari harga pesanannya. Untuk seekor macan dahan, misalnya, dipatok harga Rp100 juta. Sedangkan untuk hewan sumatera harganya mencapai dua kali lipatnya.

Meski tidak memiliki kios khusus, HMN di Pasar Pramuka termasuk orang penting dalam praktik jual beli hewan langka. Tidak sembarang orang bisa menemuninya. Dia hanya mau memberikan nomor telepon selalurnya kepada pelanggan lamanya saja. Itupun setelah ENG (29) anak buahnya yang menjadi perantara menyaringnya terlebih dahulu.

Selama bekerja dengan HMN, menurut ENG, dia sudah berkali-kali mengambil hewan langka dari TMR, salah satunya beruang madu. Bahkan antara TMR dan Pramuka kerap bertukar hewan. Misalnya, jika ular sanca di TMR tidak ada, diambil dari Pasar Pramuka.

Hal ini diakui seorang petugas TMR yang tidak mau disebut namanya. Selain dengan Pasar Pramuka, hubungan harmonis juga dengan pengelola sirkus. Dulu, sekitar tahun 1990-200-an ada pengelola sirkus yang memiliki hubungan baik dengan KB Ragunan diberi kemudahan untuk memelihara hewan langka. Bahkan Harimau Sumatera pun diperbolehkan. Sampai kini ada seorang rekannya masih memiliki Harimau Sumatera bekas sirkus dari KB Ragunan. Sekarang harimaunya berada di Jawa. Pernah tahun 2010 karena tidak sanggup merawatnya, dia meminta saya menawarkan hewan itu pada tahun 2010.. Saat itu masih berusia 12 tahun, terangnya.

Yang menarik 10 tahun lalu seperti diungkapkan HMN ada istilah adopsi hewan yang bisa dilakukan perorangan. Selain bisa memelihara hewan langka, bisa juga meminta izin penangkarannya melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KKSDA). Inilah yang selama bertahun-tahun jadi 'mainan', tuturnya.

Dulu, menurut HMN, TMR juga bisa memroses adopsi bagi perorangan, tapi tidak boleh keluar dari kebun binatang. Hewannya dibuatkan kandang khusus, dan pengadopsi harus memberi uang untuk perawatan.